0811-608-1114 & 081269952111 Pin BB : 54149A82[email protected]

Wisata Rumah Adat Tua Desa Lingga

Desa budaya Lingga berada di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Terletak pada ketinggian 1.200 mdpl, desa ini berjarak lebih kurang 15 kilometer dan Berastagi dan 5 kilometer dari Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo. Waktu tempuh dari kota Medan ke Desa Lingga sekitar 2 jam. Pemandangan Gunung Sinabung di kejauhan melengkapi daya tarik desa ini. Rumah adat di sini dulu masih banyak berdiri. Namun, karena menjadi warisan, oleh ahli waris rumah-rumah tersebut dibagi dan akhirnya berubah bentuk menjadi rumah biasa. Anda bisa ke tempat tujuan wisata tersebut dengan cara rental mobil di Medan yang menyediakan berbagai jenis mobil dengan supir yang profesional dan pengalaman sehingga membuat perjalanan anda semakin nyaman.

Sebagian lagi, rusak dimakan usia. Khawatir yang tersisa berubah bentuk atau hancur, Pemerintahan Kabupaten karo menetapkan 3 bangunan tersisa yaitu Rumah Gerga, Rumah Belang Ayo, Sapo Ganjang- sebagai cagar budaya sejak 10 tahun lalu. Di antara ketiga bangunan, Rumah Gerga yang didirikan Raja Urung Sibayak Lingga paling banyak disinggahi wisatawan. Selain karena usianya paling tua, tampilan rumah ini lebih memukau dibanding yang lain.

Berbagai ukiran ornamen menghiasi dinding. Setiap ornamen mengandung makna tersendiri sebagi simbol kearifan masyarakat Karo serta memberikan kesan keagungan dan keindahan. Keunikan lain dapat terlihat dari penyanggahan rumah dan dinding kayu yang dipasang menggunakan pasak dan tali ijuk, tak ada paku.

Pada zaman dulu, arsitek Karo sudah memiliki kemampuan merancang daya tahan rumah dari gempa. Misalnya, palas antara batu pondasi dan tiang penyangga rumah dilapisi batang ijuk membuat rumah mengiktui arah goyangan gempa. Pada bagian teras, tangga dan penyangga atap dibuat dari bambu. Sedangkan atap rumah menggunakan ijuk. Bagian puncak dilengkapi 2 tanduk kerbau. Dahulu, masyarakat Karo mempercayai tanduk kerbau. Dahulu, masyarakat Karo mempercayai tanduk kerbau sebagai penolak bala.Rumah Gerga terdiri dari 12 kamar. Masing-masing kamar dihuni oleh 1 keluarga.

rumah adat desa lingga

Setiap keluarga memiliki dapur sendiri yang terletak di depan pintu kamar masing-masing. Salah satu kamar di rumah ini pernah di diami Raja Urung Sibayak Lingga yang konon hidup berpoligami. Rumah Gerga kini dihuni Damson Tarigan. Dia adalah salah satu keturunan Raja Urung Sibayak. Di rumah ini Damson tinggal bersama istrinya, Januwarti beru Sitepu, dan 4 orang anak mereka. Tak jauh dari tempatnya duduk terdapat semacam kotak kayu bersusun tiga yang disebut para tersusun tiga. Para ganjang digunakan sebagai tempat penyimpanan kayu api, para tengah digunakan untuk meyimpan perkakas dapur dan par alubng digunakan untuk menyimpan masakan seperti ikan, sayur dan sebagainya. Januwarti menceritakan, pada Oktober 2013 lalu seorang turis dari Belanda sempat tinggal selama tiga bulan bersama mereka dan ikut merenovasi rumah. Seorang warganegara Amerika Serikat pun pernah menginap selama lima hari khusus untuk mencari kayu yang digunakan membangun Rumah Gerga. Bahkan seorang turis asing juga pernah menyampaikan niat membeli rumah itu Rp. 1 miliar untuk dijadikan vila pribadi.”tapi kami menolak. Ini tradisi kami. Saya harus mempertahankannya,”ujar Janurwarti membuat kami tertegun. Sebagai ahli waris budaya, kita memang memikul tanggungjawab melestarikan kearifan yang ditinggalkan bagi kita untuk generasi mendatang dan kemanusiaan.